Zakat fitrah merupakan kewajiban yang wajib ditunaikan oleh seluruh umat Islam di bulan suci Ramadhan. Ibada puasa yang dilakukan oleh seorang hamba tergantung di antara langit dan bumi, tidak diterima oleh Allah sebelum ia menunaikan kewajiban zakat fitrahnya. Seorang hamba dalam menunaikan zakat fitrah haruslah sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh agama agar zakat fitrah yang ia tunaikan diterima oleh Allah. Oleh karena itu, telah menjadi kewajiban setiap orang beriman untuk belajar cara mengibadati Allah sesuai dengan aturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh-Nya. Sebab ibadah yang dilakukan tanpa dasar ilmu pengetahuan terhadap ibadah tersebut akan berpotensi untuk salah dan keliru. Dan beberapa kekeliaruan bersifat fatal.

Oleh karena itu, kami mengadakan Seminar Pelatihan Pengelolaan Zakat Fitrah Sesuai Madzhab Asy Syafi’i pada setiap bulan suci Ramadhan sejak tahun 2003 lebih kurang hingga saat ini. Sasaran kami adalah para ustad, ulama, kiayi, sekolah, organisasi, masjid dan mushalla, serta Lembaga-lembaga yang mengelola zakat fitrah di bulan suci Ramahan. Hampir setiap tahunnya di hadiri oleh sekitar 400-500 ustad perwakilan dari Lembaga, mushalla, masjid yang tersebar di wilayah Tangerang dan sekitarnya.

Pada saat seminar, kami membagikan Buku Zakat Fitrah karya Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan secara gratis kepada peserta, sebagaimana juga kami membagikan secara gratis bulletin tentang hukum-hukum zakat fitrah untuk diperbanyak dan dibagikan oleh para peserta kepada masyarakat. Dan di akhir seminar kami juga membagikan sahur secara gratis kepada seluruh peserta.

Mudah-mudahan Allah mencatat manfaat yang besar untuk umat Islam dan memberikan keberkahan dalam segala aktifitas yang dilakukan oleh Al Hawthah Al Jindaniyah.

 

 

“Zakat Fitrah merupakan penyucian bagi orang yang berpuasa dari kekurangannya dan makanan bagi orang faqir dan miskin”.[1]

Sebagaimana seorang muslim diwajibkan oleh Allah untuk menunaikan Zakat Fitrah, ia juga diwajibkan untuk mempelajari bagaimana cara menunaikan Zakat Fitrah yang benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ)).

“Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim”.[2]

Karena di dalam menunaikan Zakat Fitrah terdapat persyaratan, waktu yang tepat, tempat penyaluran, dan hukum-hukum lainnya yang sangat penting dan wajib untuk dipelajari agar kewajiban menunaikan ibadah Zakat Fitrah dapat berlangsung dengan benar dan sah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Apabila seseorang telah memenuhi tiga syarat wajib berzakat Fitrah di atas, maka yang wajib ia keluarkan adalah 3½ Liter bahan makanan pokok masing-masing daerah. Dan dalil tersebut adalah yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Ibni Umar Radhiyallahu ‘anhuma:

((فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكاَةَ الفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صاَعاً مِن تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ المُسْلِمِيْنَ)).

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan Zakat Fitrah di bulan Ramadhan kepada orang-orang, yaitu Sha’ (± 3½ liter) Kurma atau Sha’ (± 3½ liter) Gandum atas setiap orang yang merdeka atau hamba sahaya, laki-laki atau perempuan dari kaum muslimin”.

Maka dari hadits shohih di atas tidak dibenarkan mengeluarkan Zakat Fitrah dalam bentuk uang sebagaimana yang terjadi di masyarakat kita dewasa ini.[3]

Adapun solusi dari pada masalah di atas yang telah mengakar di masyarakat adalah sebagai berikut:

  1. Hendaknya panitia pengelola Zakat Fitrah memberikan pengarahan sejak jauh hari di saat masyarakat berkumpul, seperti saat Shalat Tarawih, Jum’at dsb. Bahwa Zakat Fitrah dengan bentuk uang tidak dibenarkan. Dan panitia pengelola tidak menerima Zakat Fitrah dengan bentuk uang. Lain halnya dengan infaq, sodaqoh dan Zakat Maal.
  2. Hendaknya panitia Zakat menyiapkan bahan makanan pokok (yang dalam hal ini adalah beras), sehingga setiap orang yang akan berzakat dengan uang disarankan membeli beras yang telah disediakan dengan uang yang mereka bawa untuk berzakat, kemudian berniat.

[1] Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah.

[2] Hadits Riwayat Ibnu Majah, Al Baihaqi dan Ath Thabrani.

[3] Fathul Mu’in Jilid 2 Hal 197.

I’anatut Tholibin Jilid 2 Hal 197 disebutkan sebagai berikut:

“Tidak sah berzakat dengan qimah (uang) sebagai ganti dari 3½ Liter Fitrah, sebagimana yang disepakati seluruh ulama mazhab kami (Madzhab AsSyafi’I)”.

Fathul ‘Allam Jilid 3 Hal 430.